Viral ‘Mati ala Madura’, Satgas Diminta Kemenkes Daerah Untuk Mengedukasi Warga

Tweet ‘Corona Dies Madura Style’ menjadi viral di dunia maya. Kemenkes menilai perlu adanya penugasan gugus tugas COVID-19 di daerah untuk mengedukasi masyarakat Madura.
“Tentu tugas satgas provinsi dan kabupaten/kota adalah meningkatkan edukasi dan sosialisasi, termasuk penerapan protokol kesehatan yang ketat, 3T dan vaksinasi sebagai bagian dari upaya. upaya bersama dalam penanganan pandemi COVID-19,” jelas Juru Bicara Vaksin COVID-19 Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi kepada detikcom, Minggu (1 Agustus 2021).

Menurutnya, sebagian besar masyarakat perlu diedukasi karena masih melihat COVID-19 sebagai hoax.

Siti Nadia menjelaskan: “Kita tahu bahwa masih ada orang yang tidak percaya akan adanya COVID-19 karena berita palsu atau tidak memiliki informasi yang akurat.

“Yang penting kita tidak menjadi hazard sebagai sumber penularan kepada orang lain/penduduk lain yang berusaha menahan infeksi COVID-19,” pungkasnya.

Tweet ‘Corona Mati ala Madura’
Tweet tersebut menampilkan postingan Firman Syah Ali yang mengatakan bahwa kondisi Pamekasan terlihat normal di PPKM level 3, meski saat ini pandemi COVID-19 sedang berkembang.

Firman menjelaskan, warga di Pamekasan tetap beraktivitas seperti biasa di PPKM level 3-4. Menurut Firman, banyak orang merayakannya di Pamekasan.

“Paling-paling hajatan khusus, tidak ada kemajuan, dan herannya tidak ditegur. Padahal warga sangat percaya Corona, mereka tidak mau memikirkannya. Itu saja,” jelasnya.

Firman, yang juga cucu Mahfud Md, mengatakan baru-baru ini ada panggilan dari Ketua DPRD Pamekasan untuk tidak mengumumkan kematian warga melalui masjid Toa. Hal ini untuk menjaga kondisi psikologis penghuni.

Firman menambahkan, orang Madura juga baru mengingat tahun itu. Merupakan kepercayaan penduduk setempat, jika di tengah malam ada orang yang mengetuk pintu dan orang itu menjawab, maka kematian akan datang.

Berikut isi lengkap twit tersebut:

Belakangan ini banyak orang meninggal di Madura, di antaranya saudara, tetangga, teman sekelas bahkan mantan saya. Saya telah mendengar beberapa berita kematian secara langsung melalui pengeras suara masjid, beberapa melalui cerita tamu selama isolasi diri, tetapi kebanyakan saya membaca di media sosial.

Selama saya hidup menyendiri, saya tidak keluar rumah sama sekali, saya tinggal di kompleks tanean lanjang Bani Hasyim Seccang, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan. Segera setelah saya selesai mengisolasi diri, saya meninggalkan rumah.

Begitu keluar dari rumah, saya terkejut melihat warga hidup normal seperti biasa, meski kabar duka terus mengalir dari awal hingga akhir. Pasar Blumbungan masih ramai bahkan macet, orang-orang santai dan bahagia tanpa masker, amal masjid meneriakkan lelucon.

Belok kiri menuju Aeng Pennay, saya bertemu dengan sekelompok besar mantan kekasih tanpa topeng, beberapa di antaranya di dalam mobil pikap yang penuh sesak tanpa topeng, bergembira bersama sekelompok kerabat lama. . Saya bermain di rumah sepupu saya, dia baru dari tahlilan.

Saya bertanya “ada apa denganmu tahlili?”, dengan tenang dia menjawab “ya ini penyakit”. Buahahaha istilahnya bukan aura di Madura, tapi “penyakit saat ini”.

Mereka tidak dilaporkan kepada korban Corona, mereka dimandikan secara rutin, dan mereka didoakan dan berdakwah secara teratur, sehingga tidak termasuk dalam data resmi korban Corona di kecamatan setempat. Setelah tahlilan, beberapa tetangga dan kerabat almarhum biasa meninggal, tetapi mereka tetap tidak dipanggil halo, mereka dikatakan meninggal karena penyakitnya sekarang.

Bahkan ada istilah yang lebih ekstrim lagi, disebut sekarat sesak napas, sekarat capo capo (flu) dan masih banyak lagi, titik dimana orang Madura menghindari istilah Corona otomatis menghindari protokol Covid-19 untuk jenazah. dari keluarga/tetangganya.

Bahkan baru-baru ini di Pamekasan muncul tradisi baru, yaitu menghentikan siaran duka melalui pengeras suara. Bahkan di beberapa grup WA komunitas Madura saya banyak mendapat cibiran dan cacian karena selalu memposting berita sedih, padahal orang yang saya posting berita sedih adalah orang yang mereka kenal.

Pada akhirnya, saya berpikir mungkin ini adalah cara Madura untuk melindungi dirinya dari serangan immune killer. Mereka tidak ingin daya tahan tubuhnya ambruk karena mendengar yang namanya corona, protokol kesehatan dan kabar buruk. Mereka ingin berpura-pura itu tidak ada. Atau mungkin ini cara untuk mencapai Natural Herd Immunity di Madura? Wallahu a’lam.

Nah, seperti semua acara, orang Madura selalu punya caranya sendiri. Saat saya menulis artikel ini, saya sedang bersantai di rumah sepupu saya sambil mendengarkan musik dangdut dari tetangga saya yang merayakan ulang tahunnya.

Ada banyak undangan, tidak ada yang memakai masker dan menjaga jarak.

Published
Categorized as Berita